Selasa, 10 April 2012

metafisika


METAFISIKA Umum

Metafisika adalah salah satu cabang Filsafat yang mempelajari dan memahami mengenai penyebab segala sesuatu sehingga hal tetrtentu menjadi ada.
Sebenarnya disiplin filsafat metafisika telah di mulai semenjak zaman Yunani kuo. Mulai dari filosof-filosof alam sampai Aristoteles (284-322 SM). Aristoteles sendiri tidak pernah memakai istilah metafisika. Aristoteles menyebut sesuatu yang mengkaji hal-hal yang sifatnya diluar fisika sebagai filsafat pertama (prote philosophia) untuk membedakannya dengan filsafat kedua yaitu disiplin yang mengkaji hal-hal yang bersifat fisika.

Metafisika berasal dari bahasa yunani ta meta ta physica yang artinya “yang datang setelah fisika”
Metafisika sering disebut sebagai disiplin filsafat yang terumit dan memerlukan daya abstraksi sangat tinggi (ibarat seorang mahasiswa untuk mempelajarinya menghabiskan beribu-ribu ton beras), ber-metafisika membutuhkan enersi intelektual yang sangat besar sehingga membuat tidak semua orang berminat menekuninya.

Latar belakang kemunculan metafisika
Kita semua sadar bahwa dunia sebagaimana adanya bisa tidak sesuai dengan pandanga keseharian kita tentangnya (the way it seems to be).
Contohnya; kita biasa bicara tentang matahari terbit dan tenggelam, dan jelas tampak bahwa matahari bergerak naik turun, sementara kita dan bumi tetap pada tempaynya. Baru seyelah beberapa ribu tahun kita mengenali bahwa sesunggyhnya, di balik penampakan, bumi kita yang bergerak mengitari matahari, dan bukankah berarti matahari tidak pernah terbit? Dan bukankah matahari tidak pernah tenggelam, apakah malam itu huga ada seperti mestinya, seperti yang kita lihat secara kasat mata? Atau bahwa sebenarnya siang dan malam itu tidak ada? Atau ke “ada”-annya hanyalah bahasa kompromi kita untuk mendefinisikan hari….

Basis ontologis bagi kelompok ilmu metafisika adalah seperti yang dikemukakan oleh ibnu sina
• Wujud-wujud yang secara niscaya tidak berhubungan dengan materi dan gerak, hal ini meliputi Tuhan, Jiwa, dan sampai pada taraf tertentu-malaikat atau akal (intelligence)
Ibn khaldun dalam bukunya al-Muqaddimah embagi dalam lima bagian
1. bagian yang mempelajari wujud sebagai wujud (sering disebut ontologi)
2. bagian yang mempelajari materi umum yang mempengaruhi benda-benda jasmani dan spiritual, seperi kuiditas, kesatuan, pluralitas, dan kemungkinan.
3. bagian yang mempelajari asal-usul benda yang ada dan menentukan bahwa mereka adalah entitas-entitas spiritual (tentu ini telah masuk pada kosmologi)
4. bagian yang mempelajari bagaimana cara benda-benda yang ada muncul dari entitas-entitas spiritual dan mempelajari susunan mereka, dan
5. bagian kembalinya ke asal atau permulaannya.


Sebenarnya istilah metafisika diberikan oleh Andronikos yang mana menyikapi atas karya-karya Aristoteles yang kebanyakan membicaran hal-hal di luar fisik. Metafisika kemudian dibedakan dari ontology oleh Cristian wolf dengan membatasi ruang lingkup kajian metafisika yaitu realitas supra-indrawi

Menurut wolf metafisika pada dasarnya memiliki tiga obyek kajian antara lain:
1. Kosmologi (semesta)
2. Psikologi (jiwa)
3. Theologi (Tuhan)

Tetapi hal tersebut harus di bedakan dengan hal-hal yang dibicarakan oleh ontology, karena ruang lingkup ontology adalah realitas yang terpersepsi dan kajian kajian tersebut tidak bisa terlepas sama sekali dari kajian ontology

Kajian metafisika tentang kosmos atau alam semesta bukanlah membicarakan alam semesta dalam pengertian entitas-entitas yang berbeda di alam melainkan semesta sebagai keseluruhan. Seperti ungkapan Delfgau, 1987:38 bahwa pada dasarnya tidak ada sesuatu halpun di ala mini yang tidak dapat ditangkap dengan pancra indra namun demikian, merupakan suatu kemustahilan untuk menangkap secara indrawi; suatu keseluruhan sebagai keseluruhan.

Kajian metafisika tentang jiwa (psyche) menghasilkan dua pandangan besar
Dualisme (plato, descartes)
Monisme (Aristoteles)

Pandangan dualisme beranggapan bahwa jiwa merupakan substansi yang terpisah dari materi (tubuh) dan akan terus melanjutkan eksistensinya walaupun materi lenyap.

Pandangan monisme (aristoteles), sebaliknya, beranggapan bahwa jiwa dan materi adalah dua asaa metafisik yang tak terpisahkan dari suatu substansi individu seperrti= pohon ini, manusia ini. Konsekuensi dari pandangan monisme adalah ketidakmungkinan adanya pra maupun paska eksistensi jiwa yang menafikan imortalitas jiwa. Karena dua asas metafisik baik jiwa maupun materi merupakan dua hal yang tak terpisahkan. Maka apabila materi lenyap maka jiwapun ikut lenyap. Thomas Aquinas menjembatani dari pandangan tersebut. Upaya Thomas tampaknya seperti halnya al-gazali atau filosf muslim, bahwasanya tubuh dan jiwa adalah satu kesatuan yang berbeda. Hubungan simbiosis mutualisme antara jiwa dan tubuh sampai kepada tataran eskatologi, yaitu pembalasan (siksa dan nikmat). Bahwa Tuhan tidak segan2 untuk memanggil jasad yang telah hancur untuk dikembalikan kepada jiwa (nyawa) yang dulu pernah menyinggahinya. Kok bisa? Analogikanya Tuhan menjadikan matahari agar terlihat oleh mata untuk mengetahui adanya siang dan malam dan ituberjalan dengan adanya. Dan sangat mungkin sekali Tuhan akan mengembalikan sesuatu yang telah hancur lebur. Dan inilah bahasan yang metafisik (life after life).wallahu a’lam

Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan pemikiran semesta universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan, atau dalam rumusan Lorens Bagus; menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya.
Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas. Bagi pendekatan kuantitatif, realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah, tealaahnya akan menjadi kualitatif, realitas akan tampil menjadi aliran-aliran materialisme, idealisme, naturalisme, atau hylomorphisme. Natural ontologik akan diuraikan di belakang hylomorphisme di ketengahkan pertama oleh aristoteles dalam bukunya De Anima. Dalam tafsiran-tafsiran para ahli selanjutnya di pahami sebagai upaya mencari alternatif bukan dualisme, tetapi menampilkan aspek materialisme dari mental.

Lorens Bagus memperkenalkan tiga tingkatan abstraksi dalam ontologi, yaitu : abstraksi fisik, abstraksi bentuk, dan abstraksi metaphisik. Abstraksi fisik menampilkan keseluruhan sifat khas sesuatu objek; sedangkan abstraksi bentuk mendeskripsikan sifat umum yang menjadi cirri semua sesuatu yang sejenis. Abstraksi metaphisik mengetangahkan prinsip umum yang menjadi dasar dari semua realitas. Abstraksi yang dijangkau oleh ontologi adalah abstraksi metaphisik. Sedangkan metode pembuktian dalam ontologi oleh Laurens Bagus di bedakan menjadi dua, yaitu : pembuktian a priori dan pembuktian a posteriori.
Dengan demikian Ontologi Ilmu (dimensi ontologi Ilmu) adalah Ilmu yang mengkaji wujud (being) dalam perspektif ilmu — ontologi ilmu dapat dimaknai sebagai teori tentang wujud dalam perspektif objek materil ke-Ilmuan, konsep-konsep penting yang diasumsikan oleh ilmu ditelaah secara kritis dalam ontologi ilmu.
Ontologi adalah hakikat yang Ada (being, sein) yang merupakan asumsi dasar bagi apa yang disebut sebagai kenyataan dan kebenaran.

Tidak ada komentar: